28 Nov 2012

EVALUASI ALTERNATIF SEBELUM PEMBELIAN




PENGERTIAN
Beberapa pengertian evaluasi menurut :
  1. MEHRENS & LELMAN, 1978 : Evaluasi adalah suatu proses dalam merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif - alternatif keputusan.
  2. I KETUT GEDE YUDANTARA : Evaluasi merupakan kelanjutan dari suatu rencana kerja yang peranannya sangat dibutuhkan karena evaluasi merupakan latihan yang memperkaya logika dan analisa.



PROSES PENGAMBILAM KEPUTUSAN SEBELUM PEMBELLIAN
  1. Proses Pengambilan Keputusan Pada Konsumen
    • Setelah konsumen menerima pengaruh dalam kehidupannya maka merekas amapai pada keputusan membeli atau menolak produk. Pemasar dianggap berhasil kalau pengaruh-pengaruh yang diberikannya menghasilkan pembelian dan atau dikonsumsi oleh konsumen. Keputusan konsumen, tingkatan-tingkatan dalam pengambilan keputusan, serta pengambilan keputusan dari sudut pandang yang berbeda bukan hanya untuk menyangkut keputusan untuk membeli, melainkan untuk disimpan dan dimiliki oleh konsumen.

    • Konsep Keputusan. Keputusan adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. bilas eseorang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu membeli dan atau tidak membeli tapi memilh membeli, maka dia ada didalam posisi membuat keputusan. semua orang mengambil keputusan setiap hari didalam hidupnya tanpa disadari. Dalam proses pengambilan keputusan, konsumen harus melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirsakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai.
      Tiga tingkatan dalam pemecahan ini adalah :
      1. Pemecahan Masalah yang Mensyaratkan Respons yang Rutin. Keputusan yang diambil tidak disertai dengan usaha yang cukup untuk mencari informasi dan menentukan alternatif. Kebiasaan berjalan secara otomatis, perilaku seseorang merupakan respon terhdap rutinitas karena dilakukan berulang-ulang seringkali tanpa disadari. Pemcahan masalah dengan proses yang tidak berbelit-belit (terbatas). Pemecahan masalah ini menyebabkan seseorang tidak peduli dengan ada tidaknya informasi dengan mengunakan kriteria yang kurang lebih sudah terbentuk, uuntuk mengevaluasi kategori produk dan mereknya. Tidak mengevaluasi setiap atribut dan fitur produk.

      2. Pemecahan Masalah dengan Proses yang Tidak Berbelit-belit (Terbatas). Pemecahan masalah ini menyebabkan seseorang tidak peduli dengan ada tidaknya informasi dengan menggunakan kriteria yang kurang lebih sudah terbentuk, untuk mengevaluasi kategori poduk dan mereknya. Tidak mengeveluasi setiap atribut dan fitur produk dalam memilih mana yang sesuai dengan kebutuhannya.

      3. Pemecahan Masalah yang Dilakukan dengan Upaya yang Lebih Berhati-hati dan Penuh Pertimbangan (Pemecahan Masalah yang Intensif). Di tingkat ini konsumen memerlukan informasi yang relatif lengkap untuk membentuk kriteria evaluasi dan kriteria yang baku. prosesnya lebih rumit dan panjang mengikuti proses tradisional. Mulai dari sadar akan kebuthan,  motivasi untuk memenuhi kebutuhan, mencari informasi, mengembangkan alternatif, memilih satu dari berbagai alternatif dan memutuskan untuk membeli. Terutama menyangkut produk yang gampang terlihat orang lain dan sangat mempengaruhi citra diri sosial seseorang (significant others : orang lain yang signifikan mempengaruhi kehidupan seseirang, terutama citranya).

  2. Aspek-aspek Pemilihan Keputusan
    • Produk yang murah - produk yang mahal
    • Pembelian yang sering -  pembelian yang jarang
    • Kelas produk dan merek kurang terkenal - kelas produk dan merek terkenal 
    • Pembelian dengan pertimbangan - pembelian dengan tanpa pertimbangan 
    • Pencariann yang kurang matang - pencarian intensif.

  3. Analisis Pengambilan Keputusan oleh Konsumen
    Ada empat sudut pandang dalam menganalisis pengambilan keputusan konsumen :
    Sudut Pandang Ekonomis

    Konsumen sebagai orang yang membuat keputusansecaa rasional, yang mengetahui alternatif produk yang tersedia dan harus mampu membuat peringkat dari setiap alternatif yang ditentukan, dipertimgbangkan dari kegunaan dan kerugiannya serta harus dapat mengidentifikasiakan satu alternatif yang terbaik, disebut "economic man". Tidak realistis karena :
    • Manusia memiliki keterbatasan kemampuan, kebiasaaan, dan gerak.
      contoh : orang yang tidak terampil komunikasi danmalas bertanya.
    • Manusia dibatasi oleh nilai-nilai dan tujuan.
      contoh : seorang perempuan yang ingin menghangatkan badan tidak harus pergi ke kota untuk membeli segelas kopi hangat, cukup dengan membuat kopi hangat untuk memenuhi tujuannya. 
    • Manusia dibatasi oleh pengetahuan yang mereka miliki
      Tidak semua informasi mengenai produk bisa mereka pahami, kriteria evaluasi yang ingin mereka bentuk pun tidak akan setepat economic man. Konsumen tidak membuat keputusan yan rasional, tetapi keputusannya yang cukup baik.

    Sudut Pandang Pasif

    Sudut pandang ini berlawanan dengan sudut pandang ekonomis, konsumen pada dasarnya pasrah pada kepentingan sendiri dan menerima secra pasif usaha-usaha promisi dari para pemasar. Konsumen dianggap sebagai pembeli yang impulsive dan irrasional. Kelemahannya adalah pandangan ini tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa konsumen memainkan peranan penting dalam setiap pembelian yang dilakukan, baik dalam mencari informasi tentang berbagai alternatif produk, maupun dalam menyeleksi produk yang akan memberikan kepuasan.

    Sudut Pandang Kognitif

    Konsumen sebagai cognitiv man atau sebagai problem solver. Konsumen merupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi informasi tentang produk dan gerai. Pengolah informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, terjadi inisiatif untuk membeli atau menolak poduk. Cognitive man berdiri diantara economic man dan passive man, seringkali cognitive man punya pola respon terhadap informasi yang berlebihan dan seringkali mengambil jalan pintas, untuk memenuhi pengambilan keputusannya (heuristic) pada keputusan yang memuaskan.

    Sudut Pandang Emosional.

    Menekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen membeli suatu produk. Favoritisme buktnya adalah seseorang berusaha mendapatkan produk favoritnya, apapun yang terjadi. Benda-benda yang menimbulkan kengangan juga dibeli berdasarkan emosi. Anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar. Mendapatkan produk yang membuat perasaannya lebih baik merupakan keputusan yang rasional.
  4. Model Sederhana untuk Menggambarkan Pengambilan Keputusan Konsumen.
    • Pengaruh Eksternal 
    • Usaha-usaha Pemasaran 
    • Lingkungan Sosial Budaya : keluara, sumber informal, sumber non-komersial, kelas sosial, budaya dan sub-budaya



PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA KONSUMEN :

 
  • Sadar akan kebutuhan 
  • Mencari sebelum membeli 
  • Mengevaluasi alternative

AREA PSIKOLOGIS :
  • Motivasi 
  • Persepsi 
  • Pembelajaran 
  • Kepribadian 
  • Sikap

PERILAKU SETELAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN :
  • Percobaan
  •  Pembelian ulang

EVALUASI SETELAH PEMBELIAN :
  1. InputKomponen input merupakan pengaruh eksternal sebagai sumber informasi tentang produk tertentu yang mempengaruhi nilai yang berhubungan dengan produk, sikap dan perilaku konsumen.
    • Input pemasaran :
      Aktivitas pemasaran yang merupakan usaha langsung untuk menjangkau, menginformasikan, dan membujuk konsumen agar membeli produk tertentu. Usaha 4P (Product, Price, Place, dan Promotion).
    •  Pengaruh sosial budaya :
      Membujuk konsumen karena adanya lingkungan sosial budaya seperti keluarga, sumber informal,  sumber non-komersial kelas sosial, budaya, dan sub-budaya.

  2. Proses
    Merupakan tahap yang memfokuskan pada cara konsumen mengambil keputusan. Berbagai faktor psikologis yang melekat pada setiap individu, mempengaruhi input dari luar. Pada tahap input mempengaruhi pengenalan konsumen terhadap kebutuhan, pencarian informasi sebelum pembelian, dan evaluasi terhdap berbagai alternatif.
  3. Output
    Dua macam kegiatan pasca keputusan yang saling berhubungan yaitu :
    • Perilaku beli 
    • Evaluasi pasca beli

JENIS-JENIS SITUASI DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN : 
  1. Situasi Komunikasi 
  2. Situasi Penggunaan 
  3. Situasi Pembelian 
  4. Situasi Penggantian Produk

SIFAT-SIFAT PENGARUH SITUASIONAL.
Pengaruh situasional adalah faktor-faktor yang penting dalam waktu dan di tempat pengamatan yan tidak ada hubugnannya dengan atribut pribadi ataupun stimulus, mempunyai efek yang sitematis dan bisa dilihat terhadapaperilaku seseorang. Jadi situasi merupakan faktor-faktor diluar dan dipisahkan dari produk dan atau iklan tentang produk yang mempengaruhi kosumen. Konsumen tidak merespon stimulus penasaran itu saja, tetapi bersama-sama dengan situasi.

KLASIFIKASI SITUASIONAL. 
  1. Lingkungan Fisik
    Termasuk dekorasi, suara, aroma, pencahayaan, cuaca dan susunan barang dagangan (produk) dan benda-benda lain yang mengelilingi obyek stimulus.
     
  2. Lingkungan Sosial
    Individu-individu yang juga hadir atau berada di tempat yang sama pada waktu pembelian atau konsumsi. Walaupun tampaknya orang membeli dan berbelanja dengan maksud mendapatkan produk tertentu, Konsumen akan merasa nyama saat berbelanja di suatu tempat yang di datangi oleh konsumen-konsumen lain yang kelas nya sama.
  3. Lingkungan Waktu
    Waktu yang tersedia untuk berbelanja, sangat mempengaruhi keputusan konsumen untuk menentukan pilihannya. Contoh; Layanan antar cepat.
  4. Tujuan Konsumsi
    Marketer membagi tujuan itu menjadi pembelian untuk digunakan atau dikonsumsi sendiri dan pembelian untuk diberikan kepada orang lain sebagai hadiah. Dalam pembelian untuk digunakan sendiri, konsumen lebih yakin tentang apa yang sudah diputuskannya. Maka pertimbangan dan proses pengambilan keputusan konsumen akan menjadi rumit dan memerlukan waktu yang agak lama
    .
  5. Suasana Hati Konsumen dan atau Kondisi Sementara saat Pembelian
    Suasana hati yang positif mendorong pembelian impulsive. Harus di perhatikan Kondisi sementara konsumen, seperti lelah, gembira, marah,kecewa akan mempengaruhi keputusan yang akan di pilih konsumen.
  6. Situasi Hari-hari Tertentu (Hari-hari Besar)
    Situasi ini adalah perilaku yang sering berhubungan yang mempunyai arti simbolik dan dilakukan untuk merespon peristiwa-peristiwa sosial. Contoh; Konsumen yang beragama Kristen akan banyak yang membeli peralatan natal pada saat akan merayakan hari natal





Sumber : http://henzie26.blogspot.com/2010/03/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian.html
Gambar : google.co.id/ https://www.google.co.id/imghp?hl=id&tab=wi

KEPERIBADIAN, NILAI DAN GAYA HIDUP


KEPERIBADIAN

 

Istilah keperibadian (personality) memiliki banyak arti. Di dalam perilaku kosumen, keperibadian didefinisikan sebagai respons yang konsisten terhadap stimulus lingkungan. Keadaan organisasi di dalam diri individu, yang diacu sebagai keperibadian, mengadakan persiapan untuk pengalaman dan perilaku yang berhubungan secara rapih dan koheren. Keperibadian juga menyediakan pola khusus organisasi yang membuat individu unik dan berbeda dengan semua individu yang lain. Konsistensi respons berasal dari pengertian bahwa keperibadian didasarkan pada karakteristik psikologis sebelah dalam yang agak langgeng.
Tiga teori atau ancangan utama terhadap studi keperibadian digunakan di dalam penelitian konsumen : psikoanalisis, sosial-psikologis, dan faktor ciri (trait-factor). Keperibadian kadang dihubungkan dengan konsep diri atau diri ideal yang diinginkan oleh individu, termasuk teori hierarkhi Maslow di mana orang berusaha mencapai potensi aktualisasi diri mereka yang sepenuhnya.

TEORI PSIKOANALISIS
 Teori psikoanalisis mengemukakan bahwa system keperibadian manusia terdiri atas id, ego, dan superego. Id adalah sumber energy psikik dan mencari pemuasan seketika bagi kebutuhan biologis dan naluriah. Superego menggambarkan norma masyarakat atau pribadi dan berfungsi sebagai kendala etis pada perilaku. Ego menengahi tuntutan hedonistic dari id dan larangan moral dari superego. Interaksi yang dinamis dari elemen-elemen ini menghasilkan motivasi bawah sadar yang diwujudkan di dalam perilaku manusia yang dapat diamati.
Teori psikoanalisis berfungsi sebagai basis konseptual bagi gerakan penelitian motivasi, tetapi yang juga merupakan pendahulu dari studi gaya hidup. Menurut filosofi dari para peneliti motivasi seperti Dr. Ernest Dichter, perilaku konsumen sering merupakan hasil dari motif konsumen bawah sadar, yang dapat ditentukan melalui metode penilaian tak langsung yang diuraikan seperti teknik proyektif dan teknik psikologi terkait.

TEORI SOSIO-PSIKOLOGIS
Teori sosio-psikologis berbeda dengan teori psikoanalisis dalam dua hal penting. Pertama, variabel sosiallah, bukan naluri biologis, yang dipertimbangkan sebagai determinan yang paling penting dalam pembentukan keperibadian. Kedua, motivasi perilaku diarahkan untuk memenuhi kebutuhan itu.
Contoh yang representative dari teori keperibadian sosio-psikologis adalah paradigma Horney. Model ini mengemukakan bahwa perilaku manusia diakibatkan oleh tiga orientasi antarpribadi yang utama: patuh, agresif, dan tidak memihak. Teori Horney digunakan di dalam penelitian pemasaran dalam bentuk yang disebut skala CAD, yang dikembangkan oleh J. B. Cohen dan terdiri dari skala 35-butir. Skala ini diterapkan di dalam situasi di mana keinginannya adalah untuk menghubungkan pilihan konsumen yang spesifik dengan keperibadiaan.

TEORI FAKTOR-CIRI
Teori faktor-ciri (trait-factor theory) adalah ancangan kuantitatif terhadap studi keperibadian. Teori ini mendalilkan bahwa keperibadian individu terdiri dari atribut predisposisi yang pasti disebut ciri (trait). Ciri didefinisikan secara lebih spesifik sebagai cara apa saja yang dapat dibedakan dan relatif abadi di mana individu berbeda satu sama lain. Ciri secara alternatif dapat dianggap sebagai variabel perbedaan individu.
Tiga asumsi menggambarkan teori faktor-ciri tersebut. Ada asumsi bahwa ciri adalah lazim bagi banyak individu dan bervariasi dalam jumlah absolute di antara individu. Ada asumsi lebih jauh bahwa ciri ini relatif stabil dan menimbulkan efek yang agak universal pada perilaku lepas dari situasi lingkungannya. Dari asumsi ini ada pendapat bahwa pelaksanaan fungsi yang konsisten dari variabel keperibadian bersifat meramalkan variasi luas perilaku. Asumsi akhir menegaskan bahwa ciri dapat disimpulkan dari pengukuran indicator perilaku.
Teori faktor-ciri merupakan baris utama dari penelitian keperibadian pemasaran. Studi yang khas tersebuut berusaha mendapatkan hubungan antara seperangkat variabel keperibadian dan bermacam perilaku konsumen seperti pembelian, pilihan media, inovasi, rasa takut dan pengaruh sosial, pilihan produk, kepemimpinan opini, pengambilan resiko, dan perubahan sikap.



MERAMALKAN PERILAKU PEMBELIAN

Meramalkan perilaku konsumen menjadi sasaran dari banyak penelitian keperibadian, setidaknya hingga belum lama ini. Literatur yang kaya mengenai keperibadian di dalam psikologi dan ilmu perilaku telah membujuk banyak peneliti untuk berteori bahwa karakteristik keperibadiaan harus meramalkan merek atau preferensi toko dan jenis lain kegiatan pembeli. Studi ini umumnya masuk ke dalam dua karakteristik: (1) kerentanan terhadap pengaruh sosial, dan (2) pilihan produk dan merek.
Walaupun ciri keperibadian didapatkan sebagai prediktor yang absah dari maksud atau perilaku, apakah ciri akan berguna sebagai sasaran pemangsaan pasar? Jawaban yang positif memerlukan diberlakukannya keadaan berikut ini :
  1. Orang dengan dimensi keperibadian yang umum harus homogen dalam hal faktor-faktor demografi seperti usia, pendapatan, atau lokasi sehingga mereka tersedia pada khalayak media yang kebanyakan berkenaan dengan karakteristik lazim dari jenis ini yang dapat diidentifikasi, maka tidak ada sarana praktis untuk menjangkau mereka sebagai pangsa pasar yang unik. 
  2. Pengukuran yang memisahkan variabel keperibadian harus diperhatikan memiliki keterandalan dan keabsahan yang akurat. Kesulitan dalam hal ini bersifat luas. 
  3. Perbedaan keperibadian harus mencerminkan variasi yang jelas di dalam kegiatan dan preferensi pembeli yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan secara bermakna melalui modifikasi di dalam bauran pemasaran. Dengan kata lain, orang dapat memperlihatkan profil keperibadian yang berbeda namum pada dasarnya tetap memilih atribut produk yang sama. 
  4. Kelompok pasar yang dipisahkan oleh pengukuran keperibadian harus berukuran mencakupi untuk dijangkau secara ekonomis. Pengetahuan bahwa setiap orang bervariasi pada skala keperibadian memang menarik, tetapi tidak praktis untuk perusahaan pemasaran yang umumnya harus bekerja dengan pangsa yang rekatif besar.

KEPERIBADIAN MEREK
Untuk penerapan pemasaran, pemakaian yang lebih efektif dari konsep keperibadian mungkin berupa deskripsi merek. Mereka menyingkirkan asumsi bahwa orang mempunyai pola (dorongan atau ciri) yang konsisten yang menjadi pedoman bagi mereka untuk semua merek atau situasi konsumsi. Agaknya, merek mempunyai respons konsisten yang dibangkitkan terhadap mereka, tidak didasarkan pada asumsi mengenai keperibadian konsumen yang berespons terhadap merek tersebut, walaupun respons seperti ini akan lebih kuat pada beberapa jenis konsumen atau keperibadian dibandingkan yang lain. Keperibadian merek adalah bagian dari keseluruhan citra merek bersangkutan, yang dimengerti barangkali oleh banyak pelanggan, tetapi lebih menarik (atau menjinjikan) bagi sebagian konsumen dibandingkan bagi yang lain.
Keperibadian merek mengacu pada tujuan komunikasi yang berkenaan dengan atribut yang melekat di dalam suatu produk dan juga profil persepsi yang diterima oleh consumen mengenai merek spesifik. Merek memliki tiga dimensi. Satu dimensi adalah atribut fisik (physical attribute, seperti warna, haga, bahan, dan seterusnya. Sebagai contoh, Tang adalah bubuk jeruk yang berharga 89 sen. Dimensi suatu merek . Lemon-fresh Pledge memoles perabot milik konsumen dan menangkal debu. Kedua jenis atribut ini dapat diverifikasi secara objektif. Dimensi ketiga dari merek adalah karakterisasi, keperibadian merek sebagaimana dirasakan oleh konsumen. Merek mungkin dicirikan sebagai modern atau ketinggalan model, atau riang atau eksotik, persis seperti ciri manusia.

RESPONS EMOSIONAL
Keperibadian merek atau produk dapat dimengerti lebih jauh dengan berfokus pada respons emosional yang dibangkitkan diantara konsumen. Respons seperti ini dapat dihubungkan secara erat dengan dorongan atau motif yang dibicarakan. Sewaktu konsumen membeli produk, mereka kerap menginginkan lebih dari sekedar atribut fungsional atau atribut nyata yang diberikan oleh produk bersangkutan. Mereka juga menginginkan pengalaman yang baik, respons emosional yang baik dari pemakaian produk. Ini dideskripsikan sebagai manfaat “hedonic” dari konsumsi. Walaupun bersifat subjektif dan tidak nyata, respons emosional juga membangkitkan reaksi fisiologis yang dapat diukur dengan metode penelitian fisiologis.
Rangkaian tes psikologi digunakan untuk mengerti respons emosional terhadap merek. Sebagaian dari tes ini merupakan ancangan psikologis standar, seperti kelompok fokus dan wawancara. Sebagain lebih inovatif. Biro iklan Foote, Cone dan Belding menggunakan teknik di mana konsumen diberi tumpukan foto dari wajah orang dan diminta untuk menyortir tumpukan foto tersebut kedalam jenis konsumen yang mungkin merupakan pemakai khas dari merek tertentu. Setiap wajah menggambarkan reaksi emosional yang berbeda terhadap suatu produk.
Kaegori emosional Mehrabian-Russell menggambarkan tiga dimensi. Konsepsi kesenangan (pleasure), kegairahan (arousal), dan dominansi (dominance) mendefinisikan emosi berkenan dengan dimensi yang berkesinambungan: ini disebut paradigm PAD. Daftar yang lebih ekstensif dikembangkan oleh Plutchik untuk mencakupi ketakutan, kemarahan, kesenangan, kesedihan, kejijikan, penerimaan, pengharapan, dan keheranan.

KEPERIBADIAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keperibadian dapat digunakan untuk menjelaskan tahap antara di dalam proses keputusan. Penelitian konsumen semakin mengakui bahwa prediksi dari tahap antara adalah lebih baik daripada berusaha menjelaskan hasil perilaku dengan keperibadian. Yang paling memberi harapan dari upaya-upaya ini adalah penelitian yang berfokus pada hubungan di antara variabel keperibadian dan pengelolahan informasi. Variabel keperibadian dari kebutuhan akan kognisi sudah diselidiki dan didapatkan berhubungan dengan bagaimana iklan dapat mempengaruhi pembentukan sikap terhadap produk konsumen. Kebutuhan akan kognisi atau need for cognition (Ncog) adalah ukuran dari kecenderungan individu untuk menikmati berpikir.
Pengambilan resiko adalah variabel lain yang dapat meningkatkan pengertian kita mengenai pengambilan keputusan konsumen. Resiko, seperti didefinisikan di dalam penelitian keperibadian, lebih dari sekedar ketidakpastian mengenai hasil. Resiko merupakan harapan pribadi bahwa suatu kerugian akan terjadi. Semakin besar kepastian seseorang akan kerugian tersebut, semakin orang itu menjadi pengambil risiko, suatu kondisi yang mungkin mempengaruhi sikap di dalam model multiatribut. Penelitian konsumen masa datang tampaknya menuju penekanan yang leboh besar pada pengertian persepsi dan respons konsumen dalam pengalaman konsumsi. Penelitian seperti ini berfokus pada variabel seperti kecenderungan pencarian kegairahan konsumen dan cara di mana mereka berinteraksi dengan personel penjualan, khususnya sebagai determinan dari situasi pembelian berdasarkan impuls dan produk/toko yang direncanakan. Ini tampaknya lebih efektif daripada upaya untuk menghubungkan pembelian dengan variabel yang lebih umum dan kuno dari keperibadian yang didasarkan pada asumsi ciri atau temperamen yang meresap.



NILAI PRIBADI


Individu mempunyai nilai yang didasarkan pada nilai inti dari masyarakat tempat mereka tinggal, tetapi dimodifikasi oleh nilai dari sekelompok lain di mana mereka menjadi anggotanya dan situasi kehidupan individual atau keperibadian. Di dalam latar organisasi, nilai sudah diakui sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang dari organisasi bersangkutan. Realitas bahwa nilai pribadi selalu memiliki tempat di dalam latar perusahaan sudah digabungkan sebagai daya tarik dalam iklan. Penelitian konsumen yang berhubungan dengan nilai sudah dipengaruhi oleh karya Milton Rokeach. Di dalam bukunya, The Nature of Human Values, Rokeach mendefinisikan nilai sebagai kepercayaan yang abadi bahwa modus perilaku tertentu atau keadaan akhir keberadaan lebih disukai secara pribadi atau secara sosial dibandingkan modus perilaku yang berlawanan atau terbalik atau keadaan akhir keberadaan. Dinyatakan sebagai alternatif, nilai relatif stabil, tetapi tidak sepenuhnya statis, seperti halnya kepercayaan (dengan komponen kognitif, afektif, dan perilaku) mengenai apa yang harus dikerjakan seseorang (tetapi tidak selalu dikerjakan), baik mengenai tujuan (keadaan akhir atau elemen terminal) dan cara berperilaku (komponen instrumental) untuk mencapai tujuan.   
Penelitian nilai dalam perilaku konsumen dapat digunakan untuk stabil pemangsaan pasar. Walaupun produk yang dipelajari paling sering adalah mobil, seperti dalam studi oleh Vinson, Scott, dan Lamont, pengaruh keluarga mungkin lebih penting di dalam pembelian dalam keterlibatan yang begitu tinggi dibandingkan dalam pembelian rutin atau pembelian dengan keterlibatan rendah seperti serealia atau deodorant. Penjenjangan (laddering) adalah teknik yang dikembangkan sekarang ini. Teknik ini berguna untuk mengerti atribut produk. Penjenjangan mengacu pada penyelidikan mendalam yang ditunjukan untuk menyingkapkan masa tingkat pada tingkat manfaat (atribut) dan tingkat nilai. Penjenjangan berusaha menyingkapkan hubungan antara atribut produk, hasil (konsukuensi) pribadi, dan nilai yang berfungsi untuk menyusun komponen jaringan kognitif di dalam bentuk konsumen.



GAYA HIDUP GLOBAL


Strategi pemasaran semakin dijalankan dengan baris global. Penelitian konsumen mengenai topik-topik yang sama pentingnya dengan gaya hidup, dengan demikian, memerlukan pemekiran mengenai bagaimana pangsa gaya hidup bervariasi antarnegara. Memperlihatkan temuan seperti ini untuk beberapa strategi global yang canggih, mereka pun semakin perlu menggunakan tipologi seperti ini untuk mengembangkan produk yang menghimbau pangsa pasar di banyak negera. Baik media cetak maupun elektronik menjangkau ke seluruh penjuru dunia karena orang berlangganan majalah dengan basis yang meliputi seluruh dunia dan mendengarkan televise satelit. Jadi, desain produk dan strategi komunikasi dapat dikembangkan untuk Achiever dari beberapa Negara untuk menjangkau pangsa pasar yang kaya dan semakin berkembang. Menjelang tahun 1992 di Eropa, pangsa makin didefisinikan berdasarkan gaya hidup di seluruh Eropa dan bukan ancangan spesifik masa lalu dari Negara bersangkuta. 

KONSEP GAYA HIDUP DAN PENGUKURAN
Gaya hidup di luar keperibadian. Gaya hidup adalah konsep yang lebih kontemporer, lebih komprehensif, dan lebih berguna daripada keperibadian. Karena alasan ini, perhatian yang besar harus dicurahkan pada upaya memahami konsepsi atau kata yang disebut gaya hidup, bagaimana gaya hidup diukur, dan bagaimana gaya hidup digunakan. Gaya hidup didefinisikan sebagai pola di mana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Gaya hidup adalah fungsi motivasi konsumen dan pembelajaran sebelumnya, kelas sosial, demografi, dan variabel lain. Gaya hidup adalah konsepsi ringkasan yang mencerinkan nilai konsumen.
  • Psikografi 
  • Pernyataan AIO 
  • Pemangsaan Pasar 






Sumber :  
James F. Engel, Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. (1994). Perilaku Konsumen Jilid 1. Jakarta : Penerbit Binarupa Aksara.
Gambar : google.co.id/ https://www.google.co.id/imghp?hl=id&tab=wi